Road to Rembang; Lasem; Sedan


Part 1

Perkenalkan, nama saya Rachma Safitri. Perjalanan kali ini saya tidak sendiri. Berlima bersama Rizki Nurindiani AKA Indie, Dhiraestria Dyah Pramesi AKA Superdhira, Aria Dewangga AKA Kampang dan Wisnu Aribowo AKA Apow.

“Duh, kok hujan ya”, celoteh kami di dalam mobil. “Duh, bisa dapet foto nggak ya”? tanya saya sedikit bimbang. Semoga mendung berganti baju dan awanpun menjadi biru.

Manahan Solo, 09.00

Dari Jogja, perjalanan kami awali melalui Solo, menjemput seorang rekan Bambang AKA Bembi di Manahan. Sejenak kami bertegur sapa dengan sang Bunda. Berhubung beberapa perut dari kami belum terisi, maka langsung meluncur mencari sarapan. Setelah sedikit binggung memilih menu, antara Tengkleng atau Pecel. Lebih tepatnya berdebat. (maklum, seorang dari kami sedang dalam pengawasan ketat dokter ahli gizi). Untung ada jalan tengah di seputaran Stadion Manahan, nasi Liwet Mbak Lasmini. Cukup 3500 rupiah untuk sepincuk nasi Liwet dengan telur suwir.

Purwodadi Grobogan, 11.23

Rupanya jalannya tak semulus Ring Road Utara di kota Yogya. Bergelombang bak Anturium gelombang cinta. Perumpamaan ini mucul karena saya masih juga keheranan tentang booming Anturium.  Rupanya mobil kami harus berhati –hati pada dua hal. Tidak hanya pada jalan yang berjerawat tetapi juga pada Bis RELA. Warning khusus pada BIS yang punya tagline SAPU JAGAT. Bis full musik dangdut pantura yang berkecepatan dahsyat.

Juwana Pati, 12.10

Petani Garam, Kincir angin dan bergunung-gunung garam mentah. Sayang, hujan turun menyambut kami. Padahal konon Rembang dan Pati hanya kejatahan 3 bulan untuk hujan, yakni Januari – Maret.

Kantor Plan International Rembang, Jalan Raya Pantura, 13.30

2 dari anggota rombongan kami, Mbak Dhira dan Mas Bembi pernah berkantor disini. Ah senangnya, berkenalan dengan beberapa teman baru. Ramah dan bersahabat. Setelah menjamak sholat, kami meneruskan langkah.

Lontong Tuyuhan, desa Jeruk Kecamatan Pancur Rembang, 14.35

Makanan ini direkomendasikan oleh Andik, teman MP saya. Lontongnya sendiri sudah tampak berbeda.  Dibungkus daun pisang berbentuk segitiga dengan ukuran raksasa. Untuk lauknya, kita bisa memilih sendiri bagian mana yang kita sukai. Bisa swiwi atau pupu. Terakhir disiram kuah opor bersantan dengan bumbu pedas cabai dan merica.

Sebenarnya lontong Tuyuhan yang asli ada di desa Tuyuhan. Bukan desa Jeruk. Penjualnyapun semuanya lelaki. Namum, pamor dari desa Tuyuhan tergeser dengan setelah di desa jeruk hadir deretan los sederhana. Bedanya adalah semua penjual adalah perempuan. Dan setiap periode memiliki primadona. Primadona kali ini adalah Mbak Marfuah. Primadona ini juga akan berganti setelah si penjual ini menikah. Hal lain yang menarik adalah cara stategi marketing para penjualnya. Contohnya mbak Marfuah yang hapal nama para pelanggan tetapnya. Kebanyakan dari mereka adalah para pengemudi di jalur Pantura.

Kampung Pecinan, Sawahan Rembang, 15,46

Pintu-pintu dengan aksen Cina membuat kami terpana. Duh, pasti bagus kalau bisa juga dipasang di rumah Kotagedhe. Rumah-rumah yang berdinding tinggi dan berpintu kayu kaya ornamen. Ukirannya mantap.

Dikampung ini kami bersua dengan Pak Tari, penjual aneka pepes khas Pantura. Ada pepes rajungan, kepiting, tongkol, telur jungan, ati pe, manyung, udang dan lain-lain. Beliau menyapa dengan jurus marketing  yang lagi-lagi ampuh. “Saya jamin enak, pepesnya pernah dishooting pak Bondan Mak Nyuss lho”, ujar beliau dengan semangat 45. Langsung, saya dan Apow menyerbu menjajalnya. Pepes udang dan Ati Pe dibungkus daun pisang berukuran 10 senti habis sekejap. Murah dengan narasi meriah sang penjual. Bila penasaran, beliau bisa ditemui dengan sepeda pepesnya di Pantai Kartini.

Dermaga, Tasik Agung Rembang, 16.45

Sayang, langit tak begitu berwarna ketika kami sampai di dermaga Rembang. Belum lagi bau menyengat dari pantai yang sarat kotoran. Tapi, senyum ceria Rijal dan Naja, 2 bocah dari desa Tasik Agung membuat semuanya berubah.  Mereka bersemangat difoto dan bergaya. “Mbak-mbake, endi gambarku,” tanya mereka sambil mengerubungi kamera.

Indomaret Rembang III, 18.32

Kota kecil ini tidak mempunyai mall atau pusat perbelanjaan one stop shooping. Hanya ada 3 supermarket franchise yang menjadi kebanggaan. Jauh berbeda dengan Jogja yang semakin sesak dengan 8 Mallnya.

Alun-Alun Rembang, 19.20

Waktunya untuk makan malam. Alun-alun ini ramai dengan pedagang kaki lima. Pilihannya pun beraneka. Mau Nasi Goreng, Nasi Gandul, Lontong Tuyuhan, Kopi Klothok atau Pecel Lele. Semuanya tinggal pilih. Pilihan kami jatuh pada warung Ijo atas rekomendasi Dhira. Sebenarnya warung ini tidak punya nama. Hanya karena spanduknya berwarna hijau pupus sehingga muncul istilah warung Ijo.

Menu adalahnya adalah sambal cobeknya. “Sambelnya enak banget, pokoknya di Jogja nggak nemu yang seenak ini“, kata Dhira meyakinkan kami. Dan ternyata Dhira menang. Sambalnya memang benar-benar nendang. Ramuan cabai ini menjadi lengkap dengan Bebek Bakar Bumbu Kemiri di piring saya.

Kafe Resese, desa Landoh, Kecamatan Sulang Rembang, 21.34

Tak lengkap bila ke Rembang tanpa merasakan dangdut Pantura. Berdelapan, kami berangkat. Menjawab keingintahuan dan rasa penasaran terhadap kafe pertama di kota ini. Mayoritas pengunjung kafe ini adalah para reserse. Malam itu pengunjungnya rata-rata berambut cepak dengan usia matang.

Berbeda dengan kafe-kafe di Jogja, Resese jauh lebih merakyat. Bila dilihat dari segi tampilan, Resese memang sederhana. Ukurannya tak begitu luas dengan kursi kayu dan tembok tembok telanjang. Jenis minuman juga terbatas. Tidak ada tequila tapi tetap ada vodka beer dengan pitcher plastik.

Suguhannya adalah karaoke lagu-lagu dangdut melalui seperangkat TV dan VCD berukuran 21 inchi. Sound systemnya juga seadanya. Keras tapi terdengar pecah. Jadi kudu tetep bengok-bengok atau berteriak kalau mau bicara. Ada 2 microphone yang disediakan. Satu untuk tamu dan satu lagi untuk penjaga kafe yang setia menemani berduet. Bergincu merah jambu dengan suara tak tertalu merdu.  Oh ya, saat ini ada dua S yang menjadi idola dangdut Pantura. Penyanyi Sera dan lagu Sahara. Jadi jangan kaget bila lagu-lagu mereka diputar berulang-ulang.

Part 2

Rencananya, pagi ini kami ingin bergerak sangat pagi. Bakda subuh, jam 5. Kami ingin kembali ke Dermaga Tasik Agung. Melihat sunrise dan mungkin berperahu.

Kemarin, seorang bapak menawarkan perahunya. Delapan puluh ribu untuk satu kali perjalanan PP. Tapi setelah dihitung-hitung, waktunya tidak bakal cukup.“Kalau ke laut, butuh seharian jadi mending ke kota“, saran Apow.  Duh, leganya. Saya kan satu-satunya yang ndak bisa berenang.

Batik Purnomo, Gedongmulyo Lasem, 07.47, 04 November 2007

“Fit. Aku nitip batik Lasem untuk bawahan ya?“, kata seorang kawan di ujung telepon. Lain halnya dengan ibu yang selalu wanti-wanti agar tidak lapar mata. “Mbak, nggak usah pake acara beli kain batik, opo meneh nek regane nggilani“, pinta Ibu sebelum pergi.

Disetiap perjalanan, saya hampir selalu beli kain tradisional. Terakhir, kain Endeg dari Bali. Niatnya ingin senada seirama dengan Ibu dan Bapak. Kain saya warna ungu sedangkan ibu berwarna hijau. Warna-warni ini bakal match dengan batik Joger Toscanya bapak.

Nah, ternyata harga batik Lasem diluar perkiraaan. Rata-rata diatas Rp. 150.000,-. Itupun untuk batik motif sederhana yang berlatar polos. Ciri batik Lasem adalah kekuatan warna dan ragam motifnya. Biru dan Nila.

Tapi setelah dipikir-pikir harga tersebut menjadi wajar. Pengerjaannya memakan waktu paling cepat satu bulan. Dikerjakan secara bertahap oleh beberapa pembatik. Ada yang bagian pola, lalu nyorek, nembok, nitik, kemudian nyecek. Belum lagi proses pewarnaan dan nglorotnya. Benar-benar mahakarya.

Melihat mereka saya jadi malu sendiri. Dulu memang pernah belajar batik, ketika di SMP. Tapi pas jamnya mbatik, jadi ajang mbolos. Jahatnya, saya nggak ingat lagi siapa nama guru mbatik. Kurang ajarnya karena nama beliau diubah menjadi Ibu Napthol. (ini nama cairan kimia untuk melepas malam/lilin).

Saya sempat berbincang dengan Bu Sasmiyati. Usianya paruh baya. Beliau nampak telaten menjawab pertanyaan saya yang seperti grontol wutah.“Kathah-kathahipun ingkah mbatik sing sepuh, tiyang enem kados Mbake menika mboten wonten ingkang purun“, kata Ibu Sas sambil tangan bercantingnya menunjuk kearah saya. Ya, sekarang jumlah pembatik di Lasem memang menurun drastis. Hanya ada 2 perusahaan batik besar disini. Kebanyakan buruh batiknya berusia diatas kepala lima. Sedangkan para yang berusia muda beliau bekerja menjadi buruh Sriten/pengambil sarang walet.

Kami bertiga, para perempuan sibuk memilih batik.  Hampir sepuluhan kain dijereng. Meskipun langsung dilipat balik setelah melihat harga yang tersebut. Eits..larang banget jebule. Dua orang mbak karyawannya tersenyum kecut. Belum tentu beli tapi displaynya sudah diobrak-abrik.

Akhirnya ada satu kain batik dengan motif pesisiran yang sederhana. Harganya paling murah tapi batiknya cantik. Batik itupun terbeli tanpa proses taren dengan ibu. Pokoknya dibayar dulu baru ngabari. “Ya ampun, siji regane semono ? ” tanya ibu dengan nada kaget. “Lho rapopo buk, mosok wis tekan Lasem ra tuku batik”, jawab saya membela diri. Negosiasi cantik yang sebenarnya licik.

Part 3

Setelah menyisakan rasa kagum pada batik pesisiran, langkah kami berlanjut ke Lasem kota. Ada banyak agenda hari ini yang harus diselesaikan. Menjelajah Rembang di ujung ke pangkal. Oh ya, kami berhenti sejenak untuk mengisi amunisi dengan sarapan di warung depan Masjid Raya Lasem.

Sarapan kali ini memang agak telat. Selain karena harus mengejar waktu melihat proses pembuatan batik, ada alasan lain yakni hunting sate srepeh. Sayang, kami belum berjodoh dengan sate sapi khas Rembang ini. Namun, semangkuk sayur asem-asem berkuah pedas juga tak kalah lezat. Ini sayur asam ningrat. Isinya bukan buncis tetapi daging & jerohan sapi. Tambah lagi dengan telur kamal sebagai kawan nasi. Cukup 7000 rupiah rupiah plus segelas es teh. Ah, perut sudah terisi dengan makanan berat. Saatnya kembali bergerak.

Atas petunjuk seorang warga kepada Apow, kamipun menuju kawasan Karangturi. Di daerah ini ada banyak rumah-rumah lama dengan arsitektur Cina.

Karangturi Gang 4 No 16 Lasem, 09.21 – 10.16

Akhirnya sampai juga. Mata saya langsung terpana. Berderet rumah yang membuat saya serasa terlempar ke masa lalu. Saat ketika Lasem menjadi dermaga dan pusat perdagangan. Kamipun berpencar. Masing-masing hanyut dalam decak kagum. “Ya ampun, apik tenan yo, coba Ketandan seperti ini”, ujar saya.

Rumahnya besar dengan pintu sarat ukiran, pilar-pilar tinggi dan tembok pagar yang kokoh.  Rata-rata setiap rumah memiliki 3 pintu besar bergandengan dengan pagar. 1 pintu utama, 1 pintu butulan atau pintu samping dan pintu garasi.

Ketika sedang asik motret, tiba-tiba saya disapa seorang bapak. “Dari mana dek” ?, tanya beliau diatas motor Honda. “Kami dari Jogja pak, pengen motret rumah Cina di Lasem” jawab saya. “Mohon ijin ya Pak”, imbuh saya. “Mari dek, silahkan. Di kampung ini ada puluhan rumah cina yang sering jadi objek foto” jelas si bapak sambil menunjuk ke sepenjuru mata angin.

Selang lima menit tiba-tiba lagi, si Bapak muncul dibalik pintu rumah yang sedari tadi jadi objek foto kami. Rumah bercat coklat kayu yang tampak tua. Rupanya, si bapak adalah pemilik rumah ini. Kami dipersilakan untuk blusukan ke dalam rumah. Menjelalah rumah berlantai keramik dengan motif daun semanggi. Dingin dan silir.

Namanya Pak Kasrun Segie atau Ong Hway Bwe. Namun biasa dipanggil Pak Kasegi. Usianya sekitar 60 tahunan. Beliau adalah generasi ketika rumah ini. Rumah ini kurang lebih berumur hampir seratus tahun dan belum pernah direnovasi. Dirumah yang sangat luas ini, beliau hanya tinggal berempat, bersama istri, seorang famili dan seorang rewang. 3 orang putranya bekerja di Jakarta. Sedang putra bungsunya meninggal dunia karena kecelakaan.

Beliau mendadak diminta Apow untuk difoto. Awalnya beliau menolak. Tapi bujuk rayu Apow dan Dhira akhirnya berhasil juga. “Waduh saya ganti celana dulu ya“ ? pinta beliau sambil memegang celana tenisnya. Rupanya Pak Kasegie tampak kurang pede dan malu-malu kucing. Tapi jangan khawatir, kami masih menjaga orisinalitas objek foto, sehingga bisa menampilkan pak Kasegi yang sebenarnya. Bercelana pendek dengan topi belundru berbordir nama. Salah satu eksotisme lokal  juragan yang kebanyakan etnis Cina.

Setelah hampir setengah jam kami pamit pulang. Sebelum teh disuguhkan oleh Bu Sunarti sang Nyonya rumah. Ada indikasi beliau sibuk di dapur dari suara gelas yang beradu. Kamipun bertukar alamat. Beliau kaget ketika mendengar kata warung Marhaen dari mulut saya. Sejurus beliau pun beliau berkata, “Fit, keliatannya saya cocok sama Bapaknya, besok kalau saya ke Jogja saya pasti mampir“. Monggo-monggo, silahkan.

Di Karangturi kami juga bertemu Pak Toyo. Beliau adalah penjual agar-agar yang dengan wadah kayu pikulan. Usianya sudah lanjut, kira-kira 75 tahunan. Agar-agar dijual cukup murah. 300 rupiah dengan topping gula pasir. Legit, semanis senyumnya pada kami. Kulitnya keriput, badannya kurus. Saban hari beliau berjalan kaki keliling Lasem. Berbekal sekeranjang semangat, topi dan sandal japit swallow yang sudah mulai tipis. ”Kulo wiwit tahun 72, nenggo telas nembe mantuk”, jawab beliau atas pertanyaan-pertanyaan bombardir saya.

Siang ini, saya bertemu orang-orang istimewa. Orang-orang dengan mengajarkan bahwa senyum itu barokah. Yak, ketika sekarang senyum menjadi suatu hal yang mahal. Bagi sebagian dunia dan  hampir terjadi pada saya.

Part 4

“Fit, kalau ke Lasem, jangan lupa mampir ke Klenteng dan Viharanya”, pesan Andik, teman MP saya ditelepon. Siap bos, petunjuk segera dilaksanakan.

Vihara Ratanavana Arama, Sendangcoyo Lasem, 11.12

Letaknya ada di bukit, dengan jalan sedikit memutar. Areal viharanya terhitung luas. Rupanya Vihara masih dalam proses renovasi dan pembangunan beberapa fasilitas peribadatan. Beberapa pekerjanya sibuk berkerja ditemani lagu dangdut pesisiran dari radio kecil dengan salon tambahan.

Di Vihara ini ada Patung Buddha dengan posisi tidur kesamping kanan dengan ukuran raksasa. Warnanya emas dan dilindungi bangunan kanopi sebagai naungan. Sayang saya kesulitan mengambil gambarnya dengan utuh.

Satu hal yang paling saya senangi ketika berkunjung ke Vihara adalah petuah-petuahnya. Sama seperti yang saya alami ketika ke Vipassana Graha di Lembang. Rasanya menjadi kecil dan kerdil.

Klenteng Poo An Bio, 12.01

Hanya sekejap, sekilas dan numpang lewat. Mengejar matahari dan dikejar mendung. Berputar menuju the Biggest & Oldest Klenteng in Lasem.

Klenteng Tri Murti Cu An Kiong, Jl. Dasun 19 Lasem, 12.09

Inilah kleteng tertua di Jawa. Usianya 600 tahun dengan ornamen khas berwarna merah. Klenteng ini terakhir dipugar pada tahun 1983. Klenteng ini khusus dipersembahkan untuk Mak Cong atau Dewa Laut. Didepan klenteng terdapat sebuah sungai. Konon, dulu sungai ini menjadi dermaga pendaratan kapal-kapal dari Cina dan Malaka. Lalu lintas perairannya ramai.

Seorang bapak penjaga Klenteng menemani kami berkeliling ke dalam area klenteng. Tak lupa beliau memberi rambu-rambu kepada kami. Sejuk dan magis dengan aroma hionya yang menyengat.

Desa Dadapan, Kecamatan Sedan Rembang, 14.04

Kunjungan ke desa ini memang sudah dijadwalkan. Kami akan bertandang ke desa tempat Mas Bembi dulu bekerja. Kami datang sengaja mendadak. Kami tidak ingin ada yang repot. Tapi meskipun kami tidak ingin ngrepoti, tetap saja kami tidak bisa menolak kebaikan mereka.  Kebaikan pertama adalah rasa bersahabat mereka menerima kedatangan kami. Kebaikan kedua adalah kami langsung dianggap anak. Kebaikan ketiga adalah aneka suguhan yang sulit untuk ditolak.

Beruntun muncul dihadapan kami rejeki tersebut. Ronde pertama kelapa muda murni dengan batok kelapanya. Menyusul kemudian empat toples penganan lalu suguhan khas Rembang. Ialah sebaskom mangga arummanis yang habis petik, sebuah pisau, serbet dan semangkuk air untuk cuci tangan. Terakhir sang tuan rumahpun berkata, “Monggo lho dipun kedhapi“. “Nggih pak, kulo kedhapi, soale pelem e ket wau nggih sampun ngedepi“, ujar saya disusul tawa sang empunya rumah.

Setelah sholat, haha hihi dan bergilir menggendong Alim, kami pamit pulang. Tapi dicegah serentak oleh mereka. “Ampun wangsul riyin, tenggo sekedap“, pinta mereka. Pasti sedang ada aktivitas rahasia di dapur belakang.

Ketika yang lain sedang terlepap dalam siesta, saya pergi ke Dapur. Aduh, firasat saya benar. Dua orang wanita sedang sibuk dengan peralatan tempur mereka. Seorang memarut kelapa, seorang lagi bergulat dengan wajan memasak rica-rica.

Sambil duduk di amben dapur, tak lupa saya sms Dhimas, teman MP yang bernada pamer. Sudah pasti smspun berbalas kalimat penuh rasa iri. Hahaha… Tapi di satu smsnya, saya menjadi tahu bahwa desa yang saya kunjungi ini adalah desa pemilik cerita ’Mbok Rondo Dadapan’.

Segera saya mencari narasumber untuk ini. Dah, ternyata benar, didesa ini Mbok Rondo Dadapan memang menjadi living history. Menurut data demografis tentang janda yang diperoleh Bembipun membuat cerita ini lebih hidup. “Desa iki rondone pancen akeh Fit”, kata Bembi diikuti anggukan kepala beberapa warga desa. Kebanyakan janda adalah wanita yang menjanda karena tak tahan ditinggal terlalu lama suami menjadi TKI.

Setengah jam pun berlalu. Waktu yang cukup bagi Dhira, Indie, Kampang dan Apow untuk ngeluk boyok sambil menunggu matang hidangan. Makanan pun datang. Bau sambal terasi dalam cobek dan nasi liwet yang masih panas membangunkan mereka. Menu yang lengkap dengan Ayam Kampung bumbu Rica-rica, kerupuk pohung dan teh anget dengan bau sangit. Uh.. bener-bener mak nyoos. Perkenalkan, inilah menu terenak selama di Rembang versi saya.

http://rachmasafitri.multiply.com/journal/item/26/Episode_1_Road_to_Rembang_Para_Primadona_Pantura

http://rachmasafitri.multiply.com/journal/item/27

http://rachmasafitri.multiply.com/journal/item/28

http://rachmasafitri.multiply.com/journal/item/29/Episode_4_Road_to_Rembang_Vihara_Klenteng_dan_Mbok_Rondo_Dadapan

4 Responses to Road to Rembang; Lasem; Sedan

  1. nice trip!
    kapan ada fieldtrip lagi, bisa gabung ni..
    backpacker n’ blog walker🙂
    mampir ya

  2. ikhul says:

    hem…. jadi inget nih ma kampung halaman… ak bener2 rindu ma dadapan… desa tampat ak lahir dan dibesarkan …. desa yang penuh mitos… desa yang minat pendidikan penduduknya rendah… desa yang menghasilkan TKI cukup banyak … desa yang membentuk kepribadianku… hingga ak skrng diterima di salah satu dari 5 perguruan terbaik di indonesia …. salam ku… bwt saudara – saudaraku dikampung .

    • catatan seputar negeri dampo awang says:

      dari sedan ya. haha.. jangan lupa kembali pulang bung. membesarkannya dengan bekal ilmu yang engkau takik dari perantauan.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: