Merayakan Jaringan Selular


Oleh RIFQI MUHAMMAD

Nyatanya, kemajuan teknologi kian bisa kita rasakan. Dugaan ini bukan tanpa alasan. Terlebih dibidang komunikasi, betapa kini teknologi bukan lagi barang konsumsi elit. Teknologinya kini bisa dijamah oleh semua kalangan, dari segala lapisan, dan di berbagai tempat.

Di level keseharian kita bisa melihatnya dengan mata telanjang, bahwa teknologi komunikasi cangih pun bisa kita temui pada ibu-ibu penjual bumbu di tengah pasar tradisional di desa. Ini berarti, selain teknologinya bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah, juga telah tersebar di desa desa.

Di level statistik juga kita bisa melihat datanya. Wireless Intelligent melalui situsnya merilis sebuah data mengenai jumlah pelanggan seluler di tanah air, bahwa pada quartal dua 2008 saja, jumlahnya mencapai 117-an juta nomor. Angka itu mendudukkan Indonesia pada posisi ke-6 sebagai negara yang mempunyai pelanggan seluler paling banyak, di bawah China, India, Amerika Serikat, Rusia, dan Brazil.[1] Sedangkan tahun 2010, menurut catatan Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI), jumlahnya meningkat drastis menjadi 180 juta nomor.[2] Hingga pada tahun-tahun sesudahnya, tentu jumlah tersebut kemungkinan besar pun akan terus menanjak seiring tren industri seluler tanah air yang terus berkembang.

Ketakutan akan kegagapan teknologi di tengah masyarakat, sebagaimana kerap terdengar dari para pengamat, nampaknya hanya dalam pikiran semata. Dalam kenyataan, masyarakat ternyata kian akrab dengan benda-benda teknologi, terutama teknologi seluler. Bagaimana tidak, saya kira kini hampir setiap orang menjadikan seluler sebagai teman, baik di waktu padat ataupun senggang.

Pernah suatu ketika saya naik bis, di sebelah saya seorang bocah dengan ibunya. Ketimbang jenuh di bis, ia memilih membuka facebook melalui handphone, sembari mendengarkan musik melalui headset. Tentu bukan hanya bocah ini saja yang menggunakan handphone sebagai teman waktu sengang. Karena bahkan hampir setiap orang kerap melakukannya.

Pada saat yang sama, perangkat seluler kini kian dipermudah sekaligus diperkaya fiturnya. Hal ini membuat pengguna, yang berumuran bocah sekalipun, segera dapat beradaptasi dengan segala kelengkapan fitur perangkat seluler itu. Bahkan terkadang ada yang merasa sangat nyaman memainkannya seharian. Tentu ini bukan sekadar isapan jempol belaka. Berbagai bukti tersebar di sekitar kita. Sehingga kini bukan kegagapan teknologi yang ada, melainkan perayaan teknologi.

Saya tertarik untuk melihat perkembangan seluler di Indonesia dengan mencermati perkembangan seluler di tengah desa. Desa merupakan daerah dengan akses informasi yang sangat terbatas. Keluasan jaringan seluler tentu membawa perubahan besar pada kondisi desa yang terbatas itu. Selain itu, sebagai distrik terkecil, perkembangan teknologi di desa juga berarti mencerminkan kemajuan teknologi di level atasnya, atau yang lebih luas.

Bagaimana operator seluler berpengarus di desa? Berikut saya coba mengisahkan beberapa kasus yang bisa memberikan gambaran mengenai perubahan-perubahan selepas operator seluler masuk desa. Di desa saya misalnya, Sedan, Rembang, Jawa Tengah, teknologi handphone merupakan satu-satunya teknologi yang secara merata dimiliki oleh masyarakat. Bahkan—bisa dikatakan—setiap orang memilikinya secara pribadi, termasuk anak berusia Sekolah Dasar. Menilik data ATSI di bagian atas, saya kira, secara umum, teknologi seluler bukan lagi barang asing bagi sebagian besar daerah di negeri ini. Mengapa bisa demikian?

Dengan analisa sederhana, setidaknya ada dua faktor dominan yang menyebabkan keadaan ini terjadi. Pertama, faktor  harga handphone dan tarif seluler yang murah. Kedua, kebutuhan masyarakat akan alat bantu komunikasi. Kedua hal itu memberikan dorongan yang signifikan terhadap pernyebaran teknologi ini.

Pada faktor pertama, kita bisa melihat, betapa kini dengan uang Rp 250-300 ribu, seseorang bisa membeli perangkat handphone dengan mudah. Fiturnya pun tak kalah canggih dengan perangkat handphone yang lebih mahal. Demikian pula dengan tarif seluler, yang kian hari kian beragam dan murah. Tak cukup itu, operator seluler pun memberikan layanan internet dengan tarif kantong tipis pula. Keadaan itu tentu sangat mendorong tingkat keterjangkauan masyarakat desa terhadap perangkat selular.

Apabila pada faktor pertama dipengaruhi oleh pihak penyedia perangkat seluler dan operator selular, yang kedua lebih berada pada sisi masyarakat itu sendiri. Perkembangan teknologi selular juga didorong oleh kebuthan masyarakat akan alat bantu komunikasi. Kondisi ini selain terjadi akibat interaksi antar masyarakat desa yang semakin luas, juga karena kebutuhan komunikasi dalam waktu singkat.

Di desa saya terdapat banyak home industri konfeksi.[3] Untuk melayani pasarnya diluar kota, para pengusaha kecil ini memanfaatkan teknologi seluler. Jenis dan jumlah pesanan dari klien, dapat dilayangkan kepada pengusaha sebelum pengiriman dilakukan. Biasanya seminggu sekali pengusaha ini mengirimkan hasil kerajinan ke beberapa pasar dan toko di kota besar, seperti Surabaya, Semarang, Yogyakarta, dan sekitarnya. Sehingga barang yang dibawa pada saat pengiriman, akan habis di kota tersebut. Langkah ini dinilai lebih efektif dilakukan, ketimbang—sebelumya—membawa semua jenis barang pada saat pengiriman. Dengan model tersebut, selain lebih fektif, hasil dan keuntungan yang diperoleh lebih banyak. Klien pun puas.

Penyebaran jaringan selular menjangkau daerah-daerah pedesaan, juga membawa keuntungan bagi pedagang pasar di desa saya. Setiap hari, pedagang pasar di desa saya kulakan sayuran dan bumbu di pasar besar Jatirogo, Tuban, Jawa Timur. Jarak tempuhnya sekitar dua jam dari desa saya. Pasar ini dipilih karena harga sayuran dan bumbunya sangat miring dan lengkap. Mereka tidak bisa kulakan seminggu sekali dalam kapasitas yang besar karena daya tahan sayuran dan bumbu dapur sangat terbatas. Akhirnya setiap subuh mereka berangkat ke pasar tersebut. Biasanya sang suami yang berangkat kulakan, sedang istrinya yang berangkat ke pasar.

Ketika sebelum adanya fasilitas telekomunikasi, sang istri yang berjualan di pasar selalu mengalami keterlambatan update harga dan keterlambatan barang di pasar, karena harus menunggu suami sampai di desa lagi. Padahal paling tidak sang suami membutuhkan 4 jam untuk pulang pergi, serta waktu untuk kulakan di pasar Jatirogo sekitar 2 jam. Sehingga total waktu yang diperlukan minimal 6 jam. Ini berarti, barang hasil kulakan tiba di pasar bisa jadi dalam hari yang sudah terik. Untuk menyiasati hal ini, kadang ada yang berangkat kulakan mulai pukul 3.00. Padahal kebanyakan mereka memakai sepeda motor. Bayangkan, ini dilakukan setiap hari.

Adanya jaringan selular operator, telah mengubah keadaan ini. Dengan adanya komunikasi selular, pasang surut harga bisa diketahui sejak pagi. Karena sekalipun sang suami masih di pasar Jatiorogo, ia bisa langsung mengirimkan perkembangan harga terbaru di pasaran. Juga, sang istri bisa mendadak menambah atau mengurangi daftar kulakan, sesuai dengan kebutuhan pasar lokal dan stok barang yang tersedia. Model kulakan juga banyak pembaruan, kini kulakan bisa dilakukan secara jarak jauh. Pemesanan barang kepada pedagang grosir bisa dilakukan pada malam hari. Sehingga pada pagi harinya, sang suami tinggal melakukan tawar menawar harga, berdasarkan harga yang berkembang di pasar. Kondisi ini jelas sangat menguntungkan.

Tidak jauh berbeda dari sektor perekonomian, sektor pendidikan pun terbantu. Peran jaringan operator telekomunikasi di desa saya, tentu tidak bisa dipersamakan sebagaimana di kota, di mana e-learning bisa sangat berjalan. Di desa saya, setelah adanya jaringan selular, para siswa tampak lebih mudah malakukan kegiatan, baik itu hiburan, olah raga, maupun kegiatan akademik. Terutama anak setingkat Sekolah Menengah Pertama. Karena kontan setelah jaringan seluler muncul, para siswa itu rajin saling menyapa. Unjung-ujungnya, mereka merencanakan kegiatan tertentu. Ini berarti, jaringan selular operator bisa dinilai sebagai pemicu aktualisasi remaja di desa kami.

Sedangkan sisi sekolahan itu sendiri, kehadiran jaringan selular memberikan peluang komunikasi antar guru. Ya. Saya tidak mengetahui banyak mengenai hal ini. Namun saya kira, kehadiran selular itu mendorong percepatan dalam akses informasi antar sekolah. Demikian pula guru dapat saling berkomunikasi antara satu dengan lainnya. Guru juga bisa berkomunikasi langsung dengan para orang tua murid untuk mengabarkan atau bertanya mengenai kondisi anak didiknya. Dengan demikian, kedekatan antara guru dan wali murid semakin erat, dan proses pendidikan siswa bisa lebih terkontrol.

Selain bagi pedagang dan pengusaha di sektor perekonomian, juga bagi dunia pendidikan, beberapa kasus lain kiranya menarik untuk saya jabarkan. Saya teringat dengan cerita seorang kawan tentang tetangganya yang tengah dalam perantauan sebagai Tenaga Kerja Indonesia. Ketikalebaran tiba, ia dalam kondisinya yang sangat terpaksa, tak bisa pulang untuk sekadar sungkem kepada orang tuanya. Maka ia lakukan adalah menghubungi toko telepon genggam di ibukota kabupaten, lantas membeli sebuah telepon genggam berlayar lebar, lengkap dengan nomornya. Jelas pembelian tidak dilakukan dalam tatap muka. Ia hanya mentransfer uang, barang pun sampai di rumah di mana ia dulu dilahirkan. Selepas pengantar handphone memberi kabar, raut muka masam terlihat dari wajah sang ayah. Saya kira ia sangat kecewa, anak bungsu yang ia tunggu, saat lebaran pun tak juga pulang, malah hanya memberi hanphone. Jelas ia sangat tidak mengerti, mengapa hanya hanphone yang dipulangkan.

Lebaran tiba. Suasana rumah ramai oleh sanak keluarga. Penjual telepon genggam itu kembali datang. Beberapa menit kemudian telepon berdering. Dengan bantuan si penjual, muncullah wajah si anak. Ia tertunduk. Percakapan berjalan dalam suasana haru. Sedikit canggung. Wajah anak yang lama tak dilihatnya, hadir. Suara anak yang ia nantikan, sangat jelas ia dengar. Tetes air mata pada pipi sang anak membuatnya mengerti bahwa anaknya juga menahan kerinduan yang lama tertahan. Keadaan sedikit tambah ramai dengan teriakan sang keponakan yang menyapa sang anak. Senymnya pun mengembang. Perbincangan di dunia maya, yang bagi sang ayah tampak sangat nyata, itu pun berlangsung.

Selain beberapa kasus di atas, masih ada berbagai hikmah jaringan telekomunikasi yang dialami desa kami. Pada desa lain, mungkin kemanfaatannya juga akan berbeda. Tak bisa dipungkiri, jelas kini kita perlu turut mengapresiasi perkembangan dan penyebaran selular. Ya. Saya kira kemanfaatan teknologi ini telah dirasakan oleh banyak kalangan dari berbagai tempat. Yang perlu dilakukan kini bukan mewaspadainya melainkan merayakannya.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Tulis XL Award 2010

KATEGORI UMUM dengan Tema : Peran operator dalam memajukan pendidikan dan perekonomian di daerah pinggiran kota dan pedalaman

XL Award 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: