Surat Untuk Firman Utina dari ES.ITO


Tepat jam 9 pagi, twitter Indra Jaya Piliang yang mengatakan: “Wajib BACA »» RT @es_ito: “surat untuk firman utina ” http://bit.ly/fsjdco #es_ito”. Jelas ini cukup mengundang rasa penasaran. Apa gerangan yang ditulis oleh ES. Ito, pengarang yang beberapa tahun lalu namanya melonjak lantaran bukunya yang berjudul Rahasia Meede. Link itu merujuk pada salah satu halaman dari situs pribadinya ES. Ito (http://itonesia.com/surat-untuk-firman/).
Saya kira saya termasuk orang yang cukup tertegun dengan surat itu. Bagaimana Ito, demikian namanya kerap disapa, menggambarkan keadaan bangsa melalui pelbagai fragmen kecil yang unik. Bagi ito, kini Firman telah terlampau jauh didorong masuk dalam kebobrokan itu diluar kapasitas Firman untuk mengendalikan proses itu. Ito juga mengharapkan agar Firman bermain dengan suasana kegembiraan. Bukan dalam tekanan, baik tekanan berupa harga diri bangsa sekalipun. Karena itu bukan tanggung jawab dia. Bagaimanapun harga diri bangsa bukan hasil dari skor dalam durasi 90 menit di lapangan.  Berikut isi surat Ito:
Surat untuk Firman Utina

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

 

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

 

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

 

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

 

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!

 

Apa perasaan kita sama kawan? Mari sama-sama membangkitkan solidaritas dan cinta untuk bangsa dengan cara yang wajar. Do’a KAMI untuk TIMNAS Garuda!!!

 

 

 

5 Responses to Surat Untuk Firman Utina dari ES.ITO

  1. omiyan says:

    NURDIN HALID DAN KELUARGA BAKRIE MENCOBA MENGHILANGKAN DOSA-DOSA MEREKA YANG TERLALU MENUMPUK…LAPINDO, MAFIA PAJAK DLL

    Buat saya Timnas menang atau kalah mereka yang terbaik yang kita punya sekarang … jika Riedl diganti lebih baik kita demo PSSI mendingan MAFIA PSSI si NURDIN HALID yang mundur ….

  2. Saya kagum atas surat ini
    Surat yang menggugah
    Ayo Indoneisa

  3. Domba Garut says:

    Terlepas dari potret carut marut negeri kita, bahwa ditangan kita masing-masinglah negeri ini bisa beranjak.. lihat Korea, Lihat Thailand saja deh – mereka bisa bangkit dari Krismon dalam waktu singkat meski perihal demokrasi masih terus terongrong..

    Selain timnas, dan sepak bola – mohon jangan lupa bahwa masih segudang halaman depan dan halaman belakang tanah air ini yang setiap detik selalu kecolongan, ya hasil bumi laut, dan sebagainya..

    Semoga surat Untuk Firman bisa mengetuk hati nurani setiap anag garuda mereah putih untuk bisa bebenah pada segala bidang, dan mengutuk mereka yang kerap membawa bencana bagi bangsa dan negaranya sendiri.. salam hangat dari Baghdad, Iraq..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: